January 26, 2021

SMK Negeri 1 Blitar

Jl. Kenari No. 30 | NPSN: 20535097 | Email: info@smkn1blitar.sch.id | Telp./Fax. 0342-801947

CONSERVATION BASED LEARNING MODEL SOLUSI INTEGRASI NILAI-NILAI KARAKTER PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN DARING

Oleh Dwi Riniati, S.Pd

Pandemi corona memaksa semua orang untuk mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di semua sendi kehidupan, tidak terkecuali bidang pendidikan. Tentu saja banyak permasalahan yang dihadapi oleh semua pihak, orang tua, peserta didik, serta para pendidik. Semua memiliki tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan. Shahbas Khan, Direktur dan Perwakilan Unesco di Indonesia menyatakan bahwa Unesco memperkiran 1,5 milyar siswa di seluruh dunia tidak sekolah karena pandemi global ini. Pemerintah, sistem pendidikan, guru, siswa, dan orang tua di seluruh dunia harus bersatu dalam solidaritas untuk menerapkan alternatif pendidikan pengganti ruang kelas yang dapat memampukan siswa terus melanjutkan kegiatan akademis mereka dalam masa krisis covid-19. Artinya permasalahan pendidikan di masa pendemi ini memerlukan peran aktif dari semua pihak untuk bisa menemukan solusi.

 Salah satu tantangan yang dihadapi oleh para pendidik adalah bagaimana bisa mengintegrasikan penanaman karakter pada peserta didik dalam pembelajaran yang dilakukan secara daring. Hal tersebut memang tidak mudah, karena pembelajaran daring tidak memungkinkan pendidik untuk mampu mengawasi secara langsung perkembangan karakter peserta didik sebagaimana saat pembelajaran dilakukan secara tatap muka langsung dilingkungan sekolah.  Penanaman karakter menjadi salah satu subtansi penting dalam dunia pendidikan terutama dalam rangka menghadirkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas namun juga ramah, humanis, jujur, disiplin, dan bertanggung jawab. Bagaimanapun, pendidik dituntut untuk mampu menemukan solusi untuk permasalahan tersebut. Salah satu cara yaitu dengan menemukan model pembelajaran yang dapat mencegah terputusnya penanaman karakter peserta didik dalam pembelajaran. Conservation Based Learning (CBL) merupakan salah satu model pembelajaran yang bisa dipertimbangkan untuk mengatasi masalah tersebut.

CBL merupakan model pembelajaran berbasis konservasi atau Conservation Based Learning yang diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berfikir, menanamkan nilai-nilai penting dan mengubah perilaku siswa lebih berorientasi ramah terhadap lingkungan (Sukarsono, 2018). Model pembelajaran ini membawa misi khusus agar siswa dan peserta belajar bahkan guru dan pengajar bidang atau mata pelajaran atau materi atau topik pembelajaran, memiliki 3 pemahaman yang sama tentang bagaimana sebaiknya melindungi memelihara ekosistem agar memberi dukungan untuk kehidupan yang semakin baik dan berkelanjutan. Lebih lanjut Sukarsono (2018) menyatakan bahwa model yang diterapkan harus mampu untuk membangun nilai-nilai dalam diri siswa maupun guru serta mampu menggerakkan siswa untuk berbuat sesuai dengan kemampuan dan minat yang dimiliki. Konservasi menjadi kata kunci dalam CBL. Makna konservasi dapat meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Nilai-nilai koservasi yang perlu ditumbuhkembangkan yaitu nilai menanam, memanfaatkan, melestarikan, dan mempelajari dalam arti fisik dan non-fisik  (Racman, M. 2012)

Dalam CBL, siswa didorong untuk berpikir kreatif dan bertindak inovatif melalui penguasaan konsep dengan menggali nilai-nilai karater, yang merupakan pengarus-utamaan konservasi. Sedangkan koservasi yang dimaksud dalam CBL adalah perlindungan, pelestarian atau pengawetan serta pemanfaatan berkelanjutan. Dari konservasi tersebut diharapkan akan membentuk karakter siswa yang mampu mengonservasi dirinya sendiri, masyarakat, sumberdaya alam, dan lingkungan.

Adapun langkah-langkah penerapan CBL meliputi:

  1. Identifikasi – Penguatan Konsep. Pada tahap ini siswa dilibatkan dalam kegiatan yang mengarahkan siswa untuk mampu menemukan dan menguatkan konsep-konsep materi yang akan dipelajari. Langkah ini akan mengawali peserta didik memahami konsep-konsep penting atau yang menarik bagi dirinya.
  2.  Integrasi Nilai. :Pada tahap ini siswa menggali dan mengintegrasikan nilai-nilai materi pelajaran dan memulai menggali nilai-nilai karakter yang ada dan akan ditumbuhkan dari dalam diri siswa sendiri, dalam kelompok dan atau kelas.
  3. Masalah dan Gagasan (Solusi). Selanjutnya siswa menggali kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skill) pada masing-masing siswa, mengkomunikasikan masalah dan gagasan solusinya kepada orang lain, kelompok dan didalam kelas, menetapkan bentuk tindakan yang akan dilakukan berdasarkan hasil pemikiran dan tingkat kesadaran yang tinggi (high order behavior skill). Gagasan dikelompokkan dalam tiga bentuk kegiatan, yaitu; a) Karya tulis ilmiah; b) Karya teknologi-seni, dan sejenisnya; c) Aktifitas/tindakan berhubungan dengan konservasi.
  4. Rencana Kegiatan. Rencana Tindakan dan Pelibatan pihak lain; menyusun rencana kegiatan sesuai dengan urutan kerja ilmiah sesuai dengan solusi yang dipilih. Penyusunan dilakukan oleh siswa sendiri, kelompok, atau kelas, atau dengan melibatkan guru dan pihak lain yang memiliki kompetensi dalam bidang tersebut.
  5.  Tindak lanjut dan Evaluasi. Tahap ini merupakan tahapan terakhir dari CBL, di mana Pendidik atau guru melaksanakan seluruh kegiatan sesuai rencana yang telah disusun bersama, menginternalisasi nilai-nilai karakter baik melalui kegiatan, dan melakukan evaluasi secara otentik.

Perubahan cara belajar dari luring menjadi daring selama masa pandemi covid 19 tidak boleh menjadi sebab terputusnya penanaman nilai-nilai karakter pada siswa. Pemahaman dan penerapan model pembelajaran yang sesuai sangat menentukan tercapainya tujuan pemebelajaran, termasuk tujuan penguatan karakter siswa. Conservation Based Learning merupakan bentuk model pembelajaran yang dapat direkomendasikan untuk mengatasi masalah tersebut.